

JAKARTA, RABU – Motor Dengan sokbreker tunggal di belakang sudah ada. Tapi kalau depan dan belakang tunggal, nih ada di Malang. Bahkan jika dipandang dari sebelah kanan, setengah tidak percaya kalau Suzuki Skywave 125 cc karya Platinum Motor itu nggak pakai sokbreker. Rumah modifikasi dari kota apel ini memang langganan menang kontes. Seperti apa pekerjaaan tangan mereka?
Virus gaya lowrider yang lagi mewabah telah mengilhami tim Platinum Motor. Untuk mewujudkan tren itu, sumbu ronda skubek berlambang huruf ’S’ itu diperpanjang. Caranya, menambah breket atau engine mounting supaya jarak sumbu roda jadi lebih panjang.
Selesai? Belum! Sistem peredam roda depan diubah jadi single, mengikuti model belakang agar kompak dengan CVT. Saat dipandang dari sisi kanan, skubek yang banyak diminati ini layak nggak pakai suspensi.
Bodi juga kena sentuhan lumayan. Beberapa bagian sudah ditempel beberapa kit dari fiberglass. Seperti pada lampu dan sayap. Termasuk penutup jok juga dari kit yang bisa dengan mudah dibongkar-pasang. (Aong)
Data Modifikasi
Ban depan : Deli Tire 120/70x14
Ben belakang : Deli Tire 140/70x14
Pelek depan-belakang : Honda Genio
Spidometer : Koso
Kaliper depan : Nissin
Sok belakang : Variasi
Oil-cooler : Variasi
SBT
Senin, 31 Agustus 2009
Suzuki Skywave, Sokbreker Tunggal Depan-Belakang
Yamaha Vega Berkaki Footstep Underbone


KOMPAS.com — Pantaslah kalau Yamaha Vega 1998 garapan Johny Lipurnomo ini dinobatkan sebagai The Best Region II di ajang Yamaha Mofest Modification Contest II di Bandung, Jawa Barat. Soalnya, banyak inovasi dilakukan pemilik rumah modifikasi Custom World ini.
Paling menyolok, perubahan bentuk secara drastis dari aslinya yang bebek menjadi model Transformers. Sepintas, modifikasi ini cuma ditopang komponen-komponen variasi. Tapi, Johny menantang untuk dijajal dengan ekstrem, termasuk stoppie (akrobatik dengan menukik seraya mengangkat roda belakang motor).
Terobosan lain, sistem suspensi yang monoshock dengan posisi di sebelah lengan ayun sebelah kiri. Begitu juga sokbreker depan tunggal. Desainnya di bawah setang (bagian atas) dengan sudut kemiringan sekitar 55 derajat. Bagian bawahnya berada di depan fork.
Menariknya lagi, Johny begitu berani memakai komponen variasi sebagai komponen vital. Coba perhatikan, foostep untuk Jupiter MX135 dijadikan lengan ayun, fork (penyangga sokbreker depan) dan penopang sadel (palang tengah).
Pertimbangan Johny, kuatnya foostep underbone dan ketebalan bahannya enggak lebih dari 8 mm. Terus, materialnya dari aluminium alloy. "Itu kalau dilihat sepintas. Saya sudah tambah ketebalannya supaya kuat," papar Johny.
Selamat, deh!
Suzuki Satria Plastik dari Pontianak


Soal modifikasi motor, Kalimantan memang terkenal aneh. Seperti Jupiter MX 135LC, bodi dibalut pakai pelat. Kini, Suzuki Satria R120 buatan 2002 dari Pontianak milik Andi Salim, bodinya memakai limbah plastic, membuat tampilan lebih gagah dan perkasa. “Seluruh bodi bebek ini menggunakan limbah bodi asli motor,” tegas Salim yang memodifikasi sendiri motornya.
Salim memanfaatkan bodi bekas dengan dibentuk ulang, sesuai desain yang sudah dirancang sebelumnya. Untuk mendapatkan bahan, ia harus berburu ke sentra loakan. Setelah terkumpul, baru dibikin model dan bentuk yang dimau.
Dipilih plastik, selain ringan, juga kuat. Cuma butuh ketelitian saat melakukan penyambungan. Di sini Salim mengnandalkan solder elektronik untuk setiap penyambungan. Memang, proses penggarapannya lumayan lama.
“Untuk seluruh bodi memakan waktu 1 bulan lebih,” papar Salim yang mengaku repot saat bikin sambungan di tekukan bodi. Untuk memperkuat bodi yang baru, di bagian belakang ditanam kawat halus agar plastik nggak meleyot.
Memang, Salim tidak memakai plastik untuk semua bodi. Seperti kisi-kisi celah angin tidak dibikin, tapi memakai punya Honda Supra X125.
Untuk proses pengecatan, terlebih dahulu didempul setelah itu baru diampelas. “Ampelas paling disambungan, sedang di permukaan lain nggak terlalu banyak masalag. Karena aslinya memang sudah halus,” beber builder yang berstatus mahasiswa jurusan manajemen Universitasa Widiadarma, Pontianak. Lain soal kalau ada baret atau luka kecil.
Setelah itu, baru deh seluruh bodi disiram cat DuPont dengan pilihan kelir silver. Hasilnya, Satria yang sudah tidak diproduksi pabriknya itu tampil lebih modern dan up to date.
Ada satu hal yang tak bisa disembunyikan dari karya tangan dingin Salim. Sebagai perokok, ia membuat tempat rokok di bodi motornya, yang bisa memuat sebanyak 12 batang. “Sebenarnya ingin dilengkapi lighter seperti di mobil, tapi belum sempat,” bilang Salim.
Boleh saja, asal jangan merokok sambil naik motor, ya. (Nurfil)
DATA MODIFIKASI
Ban depan : Swallow 110/80-17
Ban belakang : Dunlop 150/60-17
Pelek depan : Enkei
Pelek belakang : Power
Upside down : Cagiva Mito
Sok belakang : Cagiva Planet
Footstep : VFR 800
Gas spontan : Kawasaki 1400R
Handgrip : Aprilia RS250
Silencer : Aprilia RS250
Oil cooler : Satria F-150
SBT
Suzuki Satria Berwajah Italia


KOMPAS.com — Sangar! itulah kata yang tepat diberikan pada Suzuki Satria F-150 ini. Bayangkan, Topo Goedhel Atmodjo dari Tauco Custom (TC) begitu berani mengubah bentuk dari bebek menjadi model sport dengan pemakaian body part yang minim. "Dengan body part yang sedikit pun bisa memperlihatkan kemampuan bermain detail," ujar Topo.
Seperti pemakaian rangka tubular dari pipa besi, misalnya. Biasanya, pada bagian tengah dibiarkan kosong, tetapi oleh Topo ditutup pakai pelat segitiga. Ini bukan pekerjaan mudah lantaran penutupannya harus presisi mengingat setiap bidang mempunyai kontur. Ternyata, Topo melakukannya dengan sempurna.
Kemudian, coba perhatikan ke cover lampu utama. Di sini, Topo terinspirasi dari Aprilia Mana. "Hanya bentuk lampu dipilih tirus. Beda sama Mana yang bulat," papar sang builder.
Beberapa komponen Aprilia juga menempel pada Suzuki, seperti lengan ayun (swing arm) dan garpu depan model upside down, diambil dari Aprilia Diablo, sampai velg pun dari motor Italia itu.
Ide liar Topo diperlihatkan pada desain knalpot. Bentuk di luar kelaziman, yakni persegi enam dan ujungnya supertrap. Tampilannya jadi menarik karena dipasangi semacam cover di bagian luarnya.
"Cover itu menguatkan kalau TC sekarang lebih memerhatikan detail di setiap motor konsumennya," sebut Top
Honda BeAT Mirip Lambretta


KOMPAS.com — Soal kreativitas di modifikasi, Indonesia enggak ada habisnya, apalagi untuk jenis skutik, seperti Honda BeAT karya dari Bandung, Jawa Barat. Modelnya ala skuter, bahkan hampir menyerupai Lambretta dari Italia. "Dipadu dengan gaya skuter Eropa, tapi enggak jiplak persis karena sudah banyak beda," ungkap Wildan El Salman, sang builder sekaligus pemilik motor.
Nuansa Eropa yang kental tampak pada bodi fiber yang desainnya lebih besar dari standar BeAT. "Untuk menyesuaikan bodi besar tadi, posisi sumbu roda belakang tetap dibuat mundur sejauh 20," bilang Wildan. Sementara itu, rangka standar, lanjutnya, tidak diutak-utik. Hanya dilakukan pembuatan breket baru untuk melekatkan bodi.
Kemudian, bodi dibikin lekukan pada bagian tertentu untuk mengesankan aerodinamis dan ada unsur balapnya. Kesan sporty dipertegas dengan pemakaian material karbon—bukan carbon look, tetapi asli—di sejumlah tempat, seperti tutup jok belakang, sepatbor depan, dan rumah lampu depan.
Uniknya, dek yang terbuat dari bahan aluminium setebal 3 mm dirancang dengan motif hair line atau garis-garis, seperti umumnya yang terpasang pada pedal gas, kopling, dan rem di mobil balap. Itu pun tak cuma bagian datar, tetapi juga pada bagian bawah tameng dalam.
Tampilan BeAT jadi manis berkat permainan warna two tones. "Meski model bodi modern, untuk urusan kelir sedikit retro. Ini terinspirasi mobil balap lawas yang umumnya dua warna," tutup sarjana Desain Produk dari STSI Bandung ini.
Honda Vario Khusus Memperingati Kemerdekaan RI


KOMPAS.com - Pasang bendera dan umbul-umbul di rumah untuk menyambut Kemerdekaan RI ke-64 tak cukup bagi Tosse. Saking semangatnya, disc Jockey (DJ) ini rela memodifikasi Honda Vario 2009 yang dipunyai menjadi keren dan stylish, tapi tetap menonjolkan idealisnya dengan kelir merah-putih.
Pria berdomisili di Kemayoran, Jakarta Pusat, ini menyerahkan rangkaian proses modifikasi ke Budi 'Big' Rahmanto. Builder berbadan bongsor sangat dikenal dalam memadu-padankan warna yang serasi.
Tak cuma di soal warna, untuk bodi disandingkan sama varian terbau Honda, Vario CBS Techno. Aplikasi bodi Techno ke Vario bukan tanpa masalah. Diakui oleh Budi, seperti dudukan baut agak berbeda, sehingga perlu sentuhan modifikasi lagi dengan dibikin baru. Umumnya dudukan baut Techno lebih rendah.
Begitu juga lekukan bodi Techno beda dengan Vario. Dimensi lebih lebar dan sudut-sudut lebih tajam. "Jadi, ada beberapa penambahan fitur seperti boks depan," ungkap modifikator dari Pisangan Lama III, Gg H. Mugeni, Jakarta Timur ini.
Bodi yang lebih besar dibanding varian standar, memaksa sasis Vario lama dipotong beberapa cm. Trus, tangki bensin Vario lama yang besar terpaksa disunat dan ditutup dengan pelat bikinan.
Tosse puas dengan garapan Budi, terutama detail dan finishing yang dinilai telaten. Termasuk permintaan pemakaian setang telanjang agar mirip chopper. Ia jadi hati-hati dengan motornya. "Kalau perlu dipajang saja," tutupnya.
Yamaha Jupiter MX 135 LC Prototipe dari Medan


KOMPAS.com — Pabrikan motor Jepang atau Eropa tidak diragukan lagi dalam menciptakan prototipe. Ternyata, Indonesia juga tak mau kalah. Meski sampai saat ini belum bisa bikin motor utuh, Indonesia mampu menampilkan motor konsep lewat modifikasi Yamaha Jupiter MX 135 LC. Hasil karya anak bangsa dari Sumatera Utara ini diikutsertakan dalam Mofest Modification Contest 2 Region III, Sumut.
Budi Udin Fakkar dari Jatayu Motor Sport tergolong berani merombak Jupiter MX milik Jimmy tersebut. Intinya, ia tak mau cuma mengubah bodi yang dirancang seperti badan motor konsep. "Saya enggak mau begitu. Prototipe yang benar juga mengaplikasi beberapa komponen yang mengaplikasi mekanisme kerja berbeda," ungkap Budi.
Sebab, motor konsep bikinan pabrikan pun menawarkan teknologi komponen yang berbeda dengan produk massal. Juga ada mekanisme kerja komponen yang dikembangkan dari komponen sebelumnya.
Itulah acuan Budi. Makanya, MX yang digarap memiliki teknologi yang jauh dari MX sebenarnya. Ia pun mengatakan kalau ciptaannya itu merupakan motor sport masa depan.
Dalam modifikasi teknologi komponen yang ditawarkan, ada tiga bagian yang bisa dilirik. Pertama, sistem kemudi dikasih nama steering ratio. Ada perbandingan radius putar waktu setang digerakkan ke dalam dan ke luar.
Kedua, mekanisme kerja peredam kejut merupakan inovasi baru. Budi menamakannya Advance Suspension. Mekanisme kerjanya berhubungan dengan aplikasi roda hubless. Pegangan velg ditopang dua tiang yang mengirim beban ke peredam kejut.
Prinsip kerjanya mirip shock belakang unitrack, tetapi posisi dipasang terbalik. Menariknya, meski dengan sistem hubless, bagian ini tetap enteng ketika bermanuver.
Terakhir, keyless ignition. Menyalakan mesin pakai kunci starter dengan menggunakan sensor gesek. Ya, semacam kartu yang biasa dijadikan kunci di kamar hotel.
Dengan keberanian Budi, pantas kalau karyanya dianugerahkan sebagai The Best Region III. Selamat
Honda Vario "Bugil"



KOMPAS.com — Motor tanpa cover bodi alias telanjang. Tampilannya seperti apa, ya? Untuk jenis sport, apalagi semi-moge, gaya ini mungkin tak jadi masalah karena masih ada tulang-belulangnya. Lain hal dengan skutik, tanpa mengenakan baju, tongkrongan jadi lucu.
Enggak percaya, silakan lihat Honda Vario 2007 milik Taufik, pria asli Singkawang, Kalimantan Barat, ini. Ketika memodifikasi skutik berlambang huruf "H", pemilik bengkel Kencana Sakti Motor ini sengaja memakai konsep telanjang.
Meski melenceng dari skuter yang memakai body work, menurut Taufik, karyanya itu bukan tanpa acuan. Ia membocorkan kalau sumber ide itu dari Honda Zoomer. Di Jepang, kendaraan ini dipakai buat mengangkat kayu.
Pertimbangan Taufik untuk anti-body work karena ia tidak telaten merawat bodi plastik. Kalau mentok-mentok, bodi lecet atau retak.
Dalam proses pembuatan sasis, ia mendapat kesulitan ketika memanjangkan bagian tengah, untuk mendapatkan kemiripan dengan Zoomer. Pemanjangan mencapai 25 cm. Trus, biar enggak kosong, ia bikin lambang independen di underbone.
Faktor kesulitan lain dialami kala membuat kaki-kaki belakang. Ia harus mengawinkan teromol belakang dan depan sekaligus. Sementara itu, kaki yang depan, tekniknya lebih mudah karena ada "T" segitiga, dan shock pakai punya motor China. Dengan kombinasi itu, kaki-kaki mudah dijejali ban lebar.
Bahan fiber dipakai untuk tangki bahan bakar yang ditempatkan di bawah setang. Unik!
Low Rider Extreme dari Suzuki Skywave


Umumnya, modifikasi low rider didominasai dua merek, yakni, kalau enggak Yamaha Mio, ya Honda Vario. Nih, sekarang ada Suzuki Skywave 125 buatan 2008 yang digarap rumah modifikasi X-16 Motor Bike. Karya rumah modifikasi di bilangan Kemayoran, Jakarta Pusat, itu punya keistimewaan tersendiri di beberapa bagian.
Paling nyata pada ban. Ring asli 16 inci diubah jadi 17 inci yang dibalut ban ukuran 200/50 profil tipis. “Tadinya hanya mau pakai ring 16 seperti aslinya. Namun, agak susah di ban, maka diakali pakai ring 17,” ungkap Johanes Hanafi, sang modifikator. Keuntungan yang dipetik, ketinggian motor tidak berubah banyak.
Namun, penggarapannya tidak segampang membalikkan telapak tangan. Dengan lebar telapak ban belakang 8 inci membuat posisi mesin harus bergeser sejauh 6 mm. Jarak itu didapat setelah diukur center antara roda, mesin, dan bodi motor bagian depan.
Mundurnya dapur pacu tentu diikuti dengan sumbu roda. “Caranya, pakai undur-undur 20 cm, tapi harus benar-benar kuat karena desain Skywave beda dengan Mio atau Vario,” papar Johanes. Untuk memenuhi tuntutan itu, undur-undur dirancang model kotak pakai pelat 2 mm persis sama dengan mobil. Untuk penempatan posisi disc brake belakang dan baut roda dikasih adaptor. “Tidak terlalu tebal, hanya 8 mm,” ungkap Johanes.
Untuk velg belakang, Johanes memakai punya variasi BMW sekalian dengan baut rodanya (5 buah) yang tidak tampak karena tertutup dop roda. Beda ketika menggarap roda depan yang banyak ubahannya. Paling jelas dalam desain palang yang sama antara kiri dan kanan. “Menghabiskan dua velg dan yang diambil palangnya,” tegas pria yang bangga dengan roda ekstrem ini.
Hanya itu keistimewaan karya Johanes? Masih ada lagi. Lirik knalpot, juga pakai asli buat mobil. Pertimbangannya, untuk mengimbangi roda belakang yang lebar itu.
Kemudian intip posisi shockbreaker belakang. Tidak rebah seperti kebanyakan aliran low rider, pada Skywave ini justru tegak dan monoshock. Pilihan Johanes pada YSS untuk Satria F-150. “Itu lebih pas karena ukuran atau panjangnya pas dengan kondisi Skywave sekarang,” urai Johanes.
Pada setang terpasang spidometer imut dan varian terbaru dari merek Koso. Meski bentuknya kecil, tetapi indikatornya lengkap. Ada penunjuk bensin, putaran mesin, odometer, dan lainnya.
Baby Harley-Davidson Suzuki Skywave


KOMPAS.com — Pengembangan terhadap modifikasi beraliran low rider enggak pernah ada habisnya. Pernik yang menjadi suatu keunikan kerap selalu ada. Entah dari bagian mana, tetapi itu menjadi sosok yang menonjol akhirnya.
Silakan simak Suzuki Skywave 2008 kepunyaan Sulistio yang digarap Ton's Chrome. Ada beberapa bagian yang menonjol dan bisa dibilang agak baru. Misalnya, pelek depan dan belakang model cutom palang yang menurut Antonius Chandra, sang juragan TC, banyak dipakai komunitas low rider Amerika.
Model palangnya lima dengan tapak lebar, depan 5 inci dan belakang 7 inci dengan bibir yang celong. Kemudian, finishing dengan dikrom.
Namun, yang menonjol dari modifikasi ini adalah nuansa Harley-Davidson. Seperti sepatbor depan yang model lebar. Sayang, bagian bawahnya tidak dikasih bibir buat penahan cipratan air. Begitu juga sepatbor belakang yang landai. Kedua bagian ini menggunakan bahan pelat berukuran 8 mm.
Begitu juga knalpot di bagian leher, hanya ada satu pipa dan sampai di tengah dipecah dua hingga ujungnya. Bagian yang dipecah dua diberi pelapis dengan bahan bermotif bolong-bolong. Setelah itu baru dikrom.
Masih ada lagi nuansa HD, yakni setang dibikin model lebar. Namun, Antonius sudah memperhitungkan diameter pipa yang dipakai, yang pas katanya 25 mm. Ketiga sektor, mulai dari pelek, knalpot, hingga setang, diproses full krom.
Dengan penggarapan yang rapi dan detail ini, pantas bila Suzuki Skywave milik Sulistio memenangkan kontes sebagai yang terbaik di ajang Otobursa 2009.